Dewasakandunia’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Mei
19

Tema besar untuk dunia saat ini, banyak persoalan-persoalan krusial yang melibas dan melintasi dimensi kemanusiaan. Jutaan masyarakat miskin seolah nasibnya digantungkan pada gonjang-ganjing global, seperti naiknya harga BBM dan masalah ketahanan pangan. Hal ini pun menjadi ancaman serius Negara-negara di dunia, terutama Negara berkembang.

Kenaikan harga BBM pada level US$ 120/barel yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah disatu sisi, dan disisi lain kita menyaksikan kenyataan antrian masyarakat atas kebutuhan minyak tanah, serta lemahnya daya beli masyarakat atas kebutuhan dasarnya merupakan kenyataan yang harus dihadapi saat ini, termasuk Indonesia.

Selain faktor-faktor global yang harus diantisipasi, akan tetapi juga system dan konsep pembangunan dimasing-masing Negara juga perlu diperbaiki. Apa yang dialami Indonesia pada tahun 1997, krisis multidimensi yang tidak terbendung merupakan konsekuensi logis dari penerapan system pertumbuhan ekonomi yang dijalankan. Ditambah lagi krisis ekologi yang sampai saat ini berlangsung seolah menggambarkan kebobrokan system dan pengelolaan Negara terhadap sumber daya alamnya.

Keadaan ini mau tidak mau akan selalu memunculkan sentiment regional, kritik dan keresahan social akan selalu menantang perbaikan-perbaikan kedepan. Akan tetapi, reformasi yang didengungkan sampai saat ini belum juga memberikan perbaikan yang signifikan terhadap masalah bangsa. Justru malah mengembalikan dan melanggengkan pada persoalan-persoalan klasik seperti diatas.

Yang tidak terelakan lagi adalah kapitalisme internasional saat ini telah mencengkram kuat, mendominasi dan mengendalikan Negara-negara didunia. Seperti apa yang disampaikan Prof. Dr. Ir. Saul Lemkowitz yang menjadi kunci pada perhelatan ilmiah pelajar dan professional Indonesian Scientific Meeting 2008 ( ISSM 2008 ) di Delft University of Technology (TU Delft) yang bertema “Sustainable Development in Indonesia : An Interdiciplinary approach”, bahwa kapitalisme internasional merupakan salah satu factor yang menyebabkan peradaban barat menjadi dominan, selain factor lainnya seperti sains dan teknologi.

Lebih lanjut Lemkowitz menyebutkan bahwa kapitalisme itu diikuti penaklukan, kolonialisasi, perbudakan, ekspoitasi , perpindahan ekses populasi, serta genosida khususnya di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia. Lebih lanjut dijabarkan bahwa dominansi peradaban Barat hingga 2000, sebelum kebangkitan Cina moderen yang begitu cepat. Dominansi itu meliputi penguasaan dan pengoperasian sistem perbankan internasional. Mengontrol semua valuta keras, menguasai pasar modal internal, dan menebarkan pengaruh kebudayaan dengan penuh perhitungan dengan berbagai komunitas, Di samping itu juga mereka kuasa melakukan intervensi militer secara masif, mengontrol jalur-jalur pelayaran, mengendalikan sebagian besar riset-riset ilmiah dan teknik pengembangan canggih. Kemudian mengontrol teknik pendidikan unggulan, mendominasi industri dirgantara dan akses ke ruang angkasa, mendominasi komunikasi internasional, serta mendominasi industri persenjataan hi-tech.

Dalam hal ini, sepak terjang Indonesia di tingkat internasional serta kebijakan yang diambil atas kondisi yang dihadapi tetap menjadi pertaruhan dalam membawa nasib dan masa depan bangsa dan Negara.

Mei
16

Bagi sebagian orang ada yang beranggapan bahwa “salah satu factor penyebab tindakan kekerasan adalah kemiskinan”.

Dan saya tidak sependapat dengan pernyataan tersebut, karena sejauh yang saya tahu kekerasan tidak mengenal kelas social. Dan kedua, pernyataan tersebut sebetulnya sama dengan menyudutkan orang-orang miskin. Men-cap orang miskin sebagai pelaku kekerasan.

Saya kira ini pemahaman yang keliru.

Mei
16

Potret kekerasan selalu menyeratai sejarah umat manusia, dan hingga diterbitkannya blog ini, fenomena kekerasan terus meningkat seolah menemukan baju baru dan terus berganti rupa. Bahkan pemberitaan tentang kekerasan diberbagai media selalu hadir dan seolah ruangnya tak pernah kosong. Apa yang kita saksikan adalah suatu kenyataan yang hadir disekitar kita. Mulai dari bunuh diri, kriminal hingga kekerasan yang berbau politis. Sungguh memuakan !!!!

Kendati peradaban manusia meningkat, akan tetapi konsep tentang kemanusiaan belum sepenuhnya menjadi bagian tata nilai yang harus dijunjung tinggi. Dan lebih malu lagi ! Ternyata kekerasan saat ini telah didompleng atas nama agama, yang seharusnya dengan agama dapat menjadikan peradaban itu sendiri menjadi sempurna.

Hal ini boleh dibilang merupakan kemerosotan dari sejarah umat manusia. Karena kita tahu bahwa agama boleh dibilang sebagai benteng peradaban, dan seharusnya dengan agama dapat lebih meneguhkan eksistensi manusia, akan tetapi keadaanya justru semakin memperlebar ruang keterasingan.

Pertanyaannya, apakah memang perjuangan agama harus dilakukan melalui kekerasan oleh mereka yang mengatasnamakan agama? ataukah memang agama memerlukan musuh untuk meneguhkan eksistensinya? Jika memang ya, sungguh terlalu naif, pemahaman agama yang dimiliki tidak menjadi berarti apa-apa oleh mereka yang melakukan kekerasan atas nama agama. Dan hal ini membuktikan bahwa dengan agama tidak menjadikan “dewasa” untuk senantiasa berbuat sebaik-baiknya terhadap orang lain, untuk menghormati hak-hak orang lain.

Keadaan menjadi semakin rumit pada saat negara justru menjadi bagian dari kekerasan atau bahkan tidak melakukan apa-apa terhadap setiap tindak kekerasan. Sikap ini menjadi sama saja, dan hasilnya kekerasan terus berlangsung.

Satu hal yang tidak dapat dipisahkan pada saat agama menjadi bagian dan menjadi identitas umat manusia. Agama diyakini, karena agama memiliki tata nilai universal. Tidak ada satu agama pun menganjurkan umatnya untuk melakukan kekerasan dan men-dzalimi orang lain. Akan tetapi kenyataannya, prilaku kekerasan, prilaku men-dzalimi justru telah tampil dengan tanpa rasa malu mengatasnamakan agama.

Beredarnya VCD tabligh akbar di Kota Banjar yang isinya hasutan terhadap umat Islam untuk melakukan pembunuhan terhadap Jemaat Ahmadiyah merupakan satu fenomena dari sekian sikap intoleransi. Sebuah fenomena yang justru semakin meruntuhkan kredibelitas agama Islam sebagai agama rahmatan lilalamin. Sungguh pemandangan yang tidak seharusnya ada dan dilakukan oleh ulama.

Ulama sebagai public figure tentunya menjunjung tinggi perdamaian, mengajak dan mengayomi umatnya pada nilai-nilai yang baik. Apa yang kita saksikan saat ini bisa dibilang sebuah kemunafikan religius, menyombongkan diri dengan merasa paling benar.

Polemik panjang antar/intra kelompok agama semuanya berkutat pada kebenaran masing-masing. Dibeberapa kali dialog antar agama tidak pernah membuahkan hasil, karena masing-masing pihak berpendapat atas dasar teologinya masing-masing. Parahnya lagi, hal ini dibawa-bawa negara dalam menentukan sebuah kebijakan. Hal ini selain dipandang merupakan sebuah penyelewengan atas konstitusi, juga malah semakin menjadikan kekisruhan antar kelompok agama.

Disini, yang dibutuhkan bukan alasan teologis, akan tetapi hubungannya dengan hubungan antar/intra umat beragama memerlukan etika. Toleransi menjadi kunci utama dalam menjalankan hubungan itu, tidak saja dari penganut atau kelompok agama, terlebih juga Negara perlu mengambil peran itu. Bukan menjadi bagian dari barisan kekerasan.

Sampai saat ini, dengan maraknya kekerasan atas nama agama belum ada pelajaran yang bisa dipetik dalam upaya menjaga harmonisasi hubungan antar agama. Dan dari sekian kekerasan yang berlangsung, boleh dikatakan Negara kurang respon untuk menindak tegas pelaku kekerasan. Yang ada kemudian kebanyakan hanya lips service dengan himbauan, pernyataan dan sebagainya.

Dalam konteks penegakan Hak Asasi Manusia tidak cukup dengan itu, upaya Negara menjamin kebebasan beragama atau berkeyakinan menjadi mutlak, mengingat bahwa hak tersebut merupakan sebagai bagian hak warga Negara yang tidak dapat dikurangi dalam kondisi apapun.

Mei
15

Seperti biasa menu utama sarapan pagi segelas kopi, rokok dan makanan tersaji di meja. Ku putar salah satu lagu milik Dream Theater, meski lagu itu tanpa syair tetap terdengar mengalun indah, mengiringi setiap tegukan kopi dan rokok yang ku hisapan. Dan tak sengaja pikiranku “berdenting” terpikir dari alat musik yang berbeda, cara memainkan yang berbeda, yang memainkannya pun berbeda, tapi mampu menghasilkan paduan bunyi yang harmonis, indah, melodical dan enak untuk dinikmati.

Pikirku “Inilah Demokrasi” dan perbedaan bukan menjadi alasan sulitnya mewujudkan demokrasi, justru karena perbedaan itulah demokrasi diperlukan. Akan tetapi bagi sebagian orang bahkan negara sendiri pun masih memandang sebelah mata terhadap perbedaan itu, walau dengan modus yang berbeda. Yang dalam prakteknya negara belum mampu menjaga perbedaan itu, belum mampu menempatkan perbedaan sebagai potensi yang dapat membangun bangsa.

Aku pikir musisi telah memberikan sumbangsih terhadap seharusnya bagaimana setiap elemen di negara ini berperan?

Biarkan semua berperan dengan kemampuan yang dimilikinya, ciptakan kebebasan untuk berperan, berpikir, berpendapat, berekspresi, memiliki pengetahuan dan keyakinan sendiri